Panduan Terlengkap Membuka Usaha Toko Alat Tulis Dari Nol

Terakhir diperbarui: 11 Februari 2019

Bisnis Alat Tulis gak ada matinya…

Beneran? Iya dong. Semua orang butuh alat tulis. Siapa sih yang ga butuh? Mulai dari anak sekolah, mahasiswa, perkantoran, olshop, bahkan orang rumahan minimal memakai notes dan bolpen.

Apa Resolusi Tahun Barumu?

Mumpung sudah tahun 2019 nih, sudahkah nentukan resolusi untuk ke depannya? Hal ini membudaya banget di Indonesia, akhir/awal tahun pasti marak lihat orang-orang buat resolusi untuk tahun berikutnya. Umumnya kayak saya nih, nulis-nulis resolusi tapi jarang diwujudkan hehehe…

Barangkali ada yang resolusinya kepingin banget punya bisnis tapi kebingungan cara memulainya? Bisnis Alat Tulis adalah salah satu yang relatif mudah dan bisa dijalankan dengan modal kecil. Di sini, saya akan sharing ilmu ini secara eksklusif. Dijelaskan berdasarkan contoh nyata, survey, pengalaman dan pengamatan bertahun-tahun.

Biasanya cari informasi bisnis di mana?

Kalau googling seputar info dan cara membuka usaha ATK, rata-rata blogger lain menuliskan tentang barang yang harus ada di toko, cara memilih lokasi, perhitungan modal, narasi peluang usaha.

Apa info itu saja cukup ya?

Lalu bagaimana cara penyimpanan stok barang kalau tidak punya gudang dan area display yang luas?

Etalase dan rak produk harus beli? Mahal dong…

Hmm… Bagaimana pembukuannya? Gue kan ga paham akuntansi 🙁

Apa perlu sewa karyawan kalau baru mulai? Kan belum tentu ramai, nanti rugi dong

Cari penjual grosiran yang murah bagaimana?

Cara membeli di produsen supaya murah?

Harus ngurus ijin usaha? Bayar pajak ga? Waduh, itu semua seperti apa ya???

Sehubungan dengan konten yang sangat banyak dan luas, 1 artikel ini saja ga akan cukup. Di waktu yang akan datang saya akan terus update setiap poin penting dalam perjalanan membangun usaha toko alat tulis dari nol.

Perkenalan: Bisnis Alat Tulis Seperti Apa?

Secara sederhana, bisnis ini umumnya tergolong usaha dagang (jual-beli), tapi ada juga yang bersifat jasa seperti percetakan.

Target Pembeli dan Jenis Barang yang Harus Ada

Bagian ini saya kasi highlight karena penting pake banget. Wajib diperhatikan dari awal supaya usahanya lebih mudah dikembangkan, yaitu: TARGET PEMBELI.

Dengan mengetahui target pembeli, list barang atau jasa yang perlu disiapkan juga lebih jelas. Jangan lupa pertimbangkan juga lokasi usaha karena itu bisa jadi pertimbangan dalam menyediakan sampingan yang sejalan dengan usaha alat tulis.

Oke, maka di bawah ini adalah list target pembeli menurut survey dan penelitianku:

  1. Pelajar
    Buku tulis (buku tulis, buku tulis kotak, buku tulis halus, buku tulis not balok, buku agenda, buku gambar), alat tulis umum (bolpen, pensil, jangka, penghapus, tip ex, penggaris, stabilo), pensil warna, crayon, kotak pensil dll
  2. Mahasiswa
    Buku tulis (buku tulis bergaris, buku tulis polos, binder, loose leaf, kertas mili, folio bergaris, kertas hvs), alat tulis umum (seperti kebutuhan pelajar), alat kebutuhan sesuai jurusan (contoh, DKV: butuh watercolour, colour wheel, tabung gambar. Teknik & Akuntansi: kalkulator), Flash disk, CD/DVD kosong, kotak CD/DVD, dll
  3. Rumah tangga
    Notes, alat tulis (bolpoin, pensil, penggaris, spidol, penghapus, tip ex), lakban, selotip, tempat selotip, gunting, cutter, isi cutter
  4. Perkantoran dan Industri
    Buku tulis, alat tulis, kertas ncr, buku khusus (buku folio panjang, buku surat jalan, kwitansi), stempel, organizer, alat arsip (klip kertas, map berbagai ukuran, akko/paper fastener, lemari arsip), tinta printer, kertas hvs, kertas cetak foto, kertas sticker/label, stabilo, flash disk, hard disk, CD/DVD kosong + kotaknya, spidol, pemotong kertas
  5. Industri kreatif
    Buku tulis & gambar, alat tulis, cat, kuas, spidol, brush pen, penggaris khusus, dll
  6. Hobby khusus
    Kertas decal, cat khusus gundam, kerajinan tangan rumahan (clay polimer, clay air dry, vernis), peralatan spray paint (alat spray paint, cat spray paint), gabus.

Dari data di atas, kira-kira sudah dapat gambaran tentang target pembeli?

Langkah 2, Offline atau Online?

Nah ini nih, dilema. Bisa susah, bisa gampang. Biasanya orang-orang berpandangan kalau modal besar tuh bisa apa aja. Jangan mudah percaya sebelum belajar, cari info dan paham faktanya, modal besar juga belum tentu lancar kalau dikelola dengan kurang tepat.

Sebagai gambaran sederhana bisa melihat sisi plus minus dari masing-masing lokasi penjualan:

Keuntungan Offline:

  1. Mudah digabung dengan usaha lain seperti fotokopi, percetakan, dan toko buku.
  2. Kalau lokasi bagus dan barang sesuai, pengunjung selalu ada aja.
  3. Pembeli lebih senang karena bisa melihat dan memilih langsung barang yang diinginkan.

Kelemahan Offline:

  1. Perlu menyediakan tempat dan etalase, ini adalah biaya.
  2. Kalau lokasi kurang memadai atau barang kurang sesuai pembeli, agak sepi.
  3. Modal lebih besar dibanding toko online.
  4. Jam operasional toko terbatas.

Keuntungan Online:

  1. Tersedia beragam marketplace dengan puluhan juta pengunjung harian.
  2. Cukup sediakan gudang penyimpanan bila nyetok produk.
  3. Ga harus nyetok, dropship pun bisa.
  4. Toko bisa diakses pembeli 24 jam penuh. Termasuk pemesanan barang.

Kelamahan Online:

  1. Persaingan harga bisa mencekik karena ada ratusan bahkan ribuan seller lain dengan produk yang sama dijual pada range harga yang kompetitif.
  2. Dana bisa tertahan oleh marketplace bila terjadi suatu hal yang dianggap melanggar ketentuan.

Tentang Penyimpanan dan Etalase

PENYIMPANAN
Tidak semua barang bisa dipajang dalam etalase sekaligus, untuk toko online, semua barang menghabiskan sepanjang waktunya dalam tempat penyimpanan sebelum dipacking dan kirim.

Kenapa penyimpanan (gudang) penting dan dibahas di sini?

Karena bisa menambah “nilai” bisnis kita di mata pembeli. Yaitu umumnya untuk:

  1. Memudahkan pemeriksaan stok.
    Di marketplace online, seller bisa terkena penalty (contoh: di tokopedia, poin badge seller berkurang) apabila membatalkan pesanan karena barang kosong. Biasanya saat ada pesanan yang sedang tidak ada stok, seller akan mengirim pesan dan menanyakan barang pengganti supaya order tidak dibatalkan. Itu kalau pembeli mau tukar. Kalau ga mau? Resiko seller untuk refund dan kena penalty.
  2. Melindungi dari debu dan perusak barang (benturan, rayap, air, dll)
    Tidak ada customer yang senang membeli barang yang tidak terlihat baru. Hampir semua tidak toleran dengan barang yang debuan, penyok, cat terkelupas, kertas terlipat, lusuh kecuali karena sangat kepepet jadi terpaksa.
    Apa mau stok susah habis dan laku karena kondisi barang gak oke? Masa kita harus nunggu pembeli “kepepet” itu yang seminggu pun belum tentu ada sekali.

Tips dan info yang bisa bermanfaat: simpanlah produk dalam kontainer plastik besar. Kontainer plastik punya semua fungsi yang dibutuhkan, yaitu: anti rayap, anti air, anti benturan dan kedap udara (bebas debu). Kontainer plastik varian warna hitam umumnya lebih murah dibanding yang bening.

ETALASE OFFLINE
Nah… Etalase standar yang kita temui sehari-hari di toko adalah etalase yang terbuat dari kaca dengan rangka aluminium. Tapi tahukah kamu? Penampilan toko juga bisa berpengaruh terhadap penjualan? Silahkan lihat 2 gambar di bawah ini dan nilailah mana yang nampak lebih atraktif.

Mohon maaf perbandingan gambarnya terlalu mencolok, hehe, bagai langit dan bumi, nanti yang lebih sebanding bisa dilihat pada gambar berikutnya.

Omong-omong soal etalase, ada alternatif lain untuk rak pajangan produk, yaitu menggunakan furniture kayu. Ini lumrah dipakai oleh toko buku besar. Coba cek perbandingan harga di bawah ini.

Etalase kaca 1 meter harganya Rp 900.000, dibandingkan etalase rak kayu ukuran 60 x 15 x 50 cm Rp 448.000 dengan tampilan yang jauh lebih manis. Beli 2 rak kayu sama-sama Rp 900.000 plus tampilan lebih menarik. Kira-kira mana yang lebih mengundang pengunjung?

Catatan perihal furniture:
Furniture kayu ada banyak ragamnya, jangan berekspektasi terlalu tinggi pada rak kayu murah. Umumnya hanya menggunakan bahan murah seperti jati belanda sedangkan kekuatannya untuk menahan beban jelas di bawah kayu jati.

Solusi lain bila ingin etalase yang nampak lebih premium dengan motif kayu khusus seperti di Gramedia atau Kinokuniya, carilah furniture dengan bahan plywood berlapis HPL. Harganya relatif terjangkau dibanding furniture berlapis kulit kayu asli (veneer) padahal penampilan secara kasat mata sangatlah mirip.

oke, itu untuk etalase offline, bagaimana dengan…

ETALASE ONLINE
Dibahas belakangan karena simple saja, biar otaknya ga kerja keras terus mikirin ini itu, yang mudah saya tuliskan belakangan 😀 Nah, etalase online adalah tampilan yang berupa gambar, ini cukup sederhana karena alat dan bahan cukup mudah didapat:

Bermodalkan 2 benda itu saja, kita sudah bisa memotret foto yang rapi dan bagus. Tidak perlu kamera DSLR atau mirrorless, digital camera atau smartphone 1 jutaan juga sudah cukup untuk menghasilkan gambar yang profesional.

Perijinan? Perpajakan? Duh… Apa tuh?

Hal yang dianggap momok seram bin ribet justru adalah hal yang mudah ga pake ruwet. Untuk memiliki ijin usaha, cukup bermodalkan KTP dan NPWP saja agar bisa registrasi di oss.go.id. Usaha yang terdaftar akan mendapatkan NIB (Nomor Induk Berusaha).

Tampilan website OSS (One Single Submission)

Membuat NPWP Pribadi hanya butuh KTP. Bahkan bisa mengajukan pembuatan tanpa perlu ke kantor pajak (ajukan NPWP secara online).

Usaha yang terdaftar bisa didaftarkan sebagai UKM atau usaha perseorangan (Usaha Dagang). Pajaknya bagaimana?

Karena tergolong UKM, maka mengikuti aturan terbaru yaitu PPh Final dengan tarif 0,5% dari omset. Aturan ini berlaku selama peredaran bruto tidak melebihi 4,8 milyar setahun.

Catatan: Sebelum mendaftar di oss ada baiknya untuk mempelajari Klasifikasi Baku Lapangan Usaha Indonesia. Karena saat pembuatan NIB nanti pasti akan diminta kode KBLI ini. Silahkan cek link berikut: KBLI Terbaru. Umumnya KBLI untuk usaha alat tulis yang bukan skala besar akan diawali dengan angka 47xxx (3 digit berikutnya menyesuaikan).

Pencatatan? Pembukuan?

Pembahasan yang panjang ini saya rasa kurang sekali untuk dijelaskan hanya dalam 1 artikel.

Maka di sini saya jelaskan poin-poin penting mengenai pengelolaan toko ini di bagian administrasi dan keuangannya.

Pencatatan Barang

Hal utama yang wajib ada di toko alat tulis skala kecil adalah memiliki kartu stok barang dan daftar barang.

Kartu stok berfungsi untuk mencatat jumlah barang masuk/keluar bertujuan untuk mengetahui sisa barang secara cepat.

Daftar barang bisa dituliskan pada buku tersendiri. Tujuannya adalah mengetahui ada barang apa saja di dalam toko. Kalau dikombinasikan dengan kartu stok, maka bisa dilihat barang mana saja yang laku dan tidak laku. Kontrol ini penting supaya tidak ada tumpukan stok mati di toko.

Pencatatan Transaksi

Semua pembelian dan penjualan DICATAT dengan lengkap dan terperinci. Adapun pembelian bisa saja dilakukan secara kredit, maka perlu ada buku hutang. Secara umum harus ada catatan ini:

  • Buku Penjualan
  • Buku Pembelian
  • Buku Hutang
  • Nota Kontan
  • Kwitansi
  • Buku Catatan Kas Masuk/Keluar selain transaksi jual beli (seperti bayar PLN, PDAM, sewa toko, dll)

Semua lebih mudah apabila menggunakan aplikasi komputer/smartphone, lebih bagus lagi bila menggunakan aplikasi khusus untuk dagang. Bagian ini akan dijelaskan secara rinci dalam kesempatan berikutnya.

Butuh Karyawan tidak?

Ini harus ditanyakan ke diri sendiri, karena ada sangat banyak faktor yang mempengaruhi. Apakah modal cukup? Perputaran uang memadai untuk menggaji karyawan? Laba bagaimana? Umumnya toko alat tulis kecil yang saya tahu, dikelola oleh anggota keluarga, masih jarang yang secara khusus merekrut karyawan.

Beli Stok Barang Dimana?

Yak, bagian ini saya jamin adalah salah satu tanda tanya besar bagi pebisnis yang baru memulai usahanya, terutama dalam bisnis alat tulis ini. Kulakan dimana? Beli darimana? Bingung?

Cari Penjual Murah

Di tiap kota pasti ada sentra khusus dimana orang-orang beli/kulakan barang dagangan. Nah kalau di Surabaya ada yang namanya Pasar Turi dan Pasar Atom (mohon maaf kurang tau sentra grosir ATK di daerah lain). Di sana kita bisa menemui banyak sekali ragam barang yang dijual dengan harga grosir, selisihnya lumayan banget untuk dijual lagi. Asal pinter nawar ^^

Nah ada satu hal nih yang saya kurang suka, yaitu kita kesulitan untuk order barang yang sama berulang-ulang, kecuali barang itu memang sudah laku dari jaman baheula sampai sekarang.

Misalnya nih bolpoin faster, bolpoin pilot, penggaris butterfly. Ada aja yang jual. Nah, suatu ketika kita dapat nih barang bagus, buku tulis tapi sampulnya lucu-lucu. Eh ternyata bukunya laku, banyak anak sekolah yang suka. Maka baliklah kita ke tempat kulakan, dan cari lagi. Apa yang terjadi? kecewa, karena penjual grosirnya juga tidak tahu kapan supplier ngadakan produk yang sama lagi. Di toko sebelah ada, tapi dimahalin karena banyak yang cari… Hmm… Kita yang repot jadinya. -ini pengalaman nyata lho-

Pusat Grosir Online

Berdasarkan ilustrasi kasus di atas, pemilik toko membutuhkan jembatan penghubung dengan produsen/distributor besar yang relasinya sangat dekat dengan pabrik produsen. Yes, terkadang produsen juga tidak tahu produk tertentu buatan mereka ternyata sangat diminati, namun karena sudah masuk design cetak baru, maka yang seharusnya “laris” itu jadi hilang di pasaran.

Ya, ada sangat banyak marketplace yang menghubungkan pembeli dengan distributor kecil, distributor besar, bahkan pada produsen itu sendiri. Salah satu contohnya adalah ralali.com yang khusus menghubungkan antara Bisnis dengan Bisnis. Dengan kata lain, bisa beli grosir yang memang diperuntukkan pelaku bisnis (penjual/distributor).

Tampilan Website Ralali.com

Saya ambil salah satu contoh, yaitu pensil populer di kalangan anak sekolah yang pasti dicari sebagai pensil untuk UNAS. Yaitu pensil 2B, merek yang saya pilih di sini Faber Castell.

Beli satuan Rp 36.000 sedangkan beli di atas 1 lusin hanya Rp 25.900!

Oke, sekarang mari kita lihat berapa harga-harga penjual di marketplace besar seperti Tokopedia dan Shopee

Harga satuan memang masih beda tipis, namun kalau membandingkan harga grosir di market B2B sebesar Rp 25.900 dengan harga satuan marketplace B2C (Business to Consumer) antara Rp 35.000 hingga Rp 48.000, maka nampak jelas sekali selisihnya.

Yang penting selalu ingat prinsip dasar dalam dagang: Beli murah, jual mahal. Jangan kebalik, nanti rugi ^^a

Terima kasih sudah membaca informasi ini, semoga bermanfaat dan mencerahkan bagi para bibit-bibit pebisnis masa depan yang mau menapakkan kakinya di dunia stationery.

Referensi dan sumber gambar

Toko kelontong
Kinokuniya Dubai
IG: @emmastudiess
IG: @doodleartsurabaya
IG: @jesslynwrites

Silahkan tulis di komentar kalau ada yang ingin ditanyakan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *